Senin, 10 Mei 2010

A Piece Theory of Love..


If I have no love, I am nothing...
Love is patient; love is kind and never envies no one
Love is never boastful, nor conceited, nor rude; never selfish, not quick to take offence
Love keeps no score of wrongs; does not gloat over other men’s sins, but delight in the truth..
Love will never come to an end
(page 381; Franzoi, 2009)






Cinta seperti suatu kebutuhan biologis. Manusia sesuai dengan akarnya sebagai mahluk sosial, diciptakan untuk menjalin hubungan dengan manusia lainnya. Kerjasama merupakan jargon utama untuk bertahan hidup bagi spesies manusia. Dalam pertempuran solo, nenek moyang manusia cenderung menjadi petarung yang lemah, namun ketika berburu secara berkelompok dan berlindung dari serangan musuh, mereka akan menjadi lebih kuat apabila jumlah mereka lebih banyak. Strategi hidup bersama-sama agar dapat bertahan hidup dan bereproduksi, menyebabkan hingga saat ini manusia tetap membawa gen yang membuat mereka cenderung untuk membentuk suatu ikatan.
Sejak lahir seorang manusia telah memiliki ketergantungan terhadap orang lain, hal membuat manusia merupakan mahluk yang terikat. Beberapa waktu setelah kelahiran, manusia menunjukkan berbagai macam respon sosial; takut, marah, cinta.
Cinta adalah hal pertama dan terbesar dari semua ini.


Love is nature’s way of giving a reason to be living
(Paul Webster)


Menurut Myers (2008) mencintai lebih sulit daripada menyukai dan tentu saja lebih sulit diukur dan lebih membingungkan untuk dimengerti. Psikologi sosial menjadikan cinta salah satu bab yang seringkali dibahas dan menjadi topik yang serius untuk diteliti lebih lanjut.
Hingga suatu hari saya teringat bahwa saya pernah mengambil mata kuliah psikologi sosial hingga jilid dua dan masih memperdalam pada semester akhir, namun sialnya mengapa yang saya ingat tentang bahasan cinta ini adalah hanya peristiwa sorak sorai yang kira-kira berbunyi :

“cie....cieee...sapa tuh,,yang lagi lagi jatuh cinta,,ciee,,” keadaan diperparah ketika bapak dosen kami bertanya;
“siapa yang punya pacar satu kelas?” dan..dengan gaya ala suasana tawar menawar di pasar, mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini bersoraksorai;
“ pak si A lagi jadian sama si B”..atau..”ihiyy,,,,si A..abis ini ditungguin si B di BonBin..” dan seterusnya..hm..

Namun kali ini, saya ingin mengumpulkan dan merangkai kembali ingatan ilmiah saya mengenai bahasan cinta yang dibahas dalam chapter Attraction & Intimacy: Liking and Loving Others (Myers,2008). Layaknya pembahasan materi serupa, seperti pada sikap altruisme, agresivitas, prasangka dan menyukai, para ahli sosial juga telah mencoba untuk meneliti cinta yang bersifat romantis (terhadap pasangan), dan tercipta beberapa konsep mengenai cinta dan mencintai ini.

Penggolongan cinta dalam Myers (2008) salah satunya adalah Passionate love, yaitu suatu keadaan mental yang secara intens selalu ingin bersama dengan seseorang. Rasa cinta ini adalah apa yang anda rasakan bukan hanya anda mencintai seseorang namun lebih kepada anda sedang mencintai seseorang. Passionate love suatu keadaan yang membuat semangat dan dapat menimbulkan reaksi emosi. Emosi ini dapat mempengaruhi pula tubuh dan pikiran. Sensasi tubuh yang ditimbulkan sama dengan ketika menonton film horor, menaiki roller-coaster, efek latihan fisik, hingga ketika menemukan seseorang yang menarik, bahkan perasaan pasangan yang menikah. Pada saat jatuh cinta, adrenalin menimbulkan perasaan menyukai untuk seseorang. Passionate love merupakan fenomena biologis sekaligus psikologis. Passionate love secara biologis melibatkan bertambahnya dopamin dalam area otak seseorang dan mengasosiasikan rasa cinta ini sama dengan seperti saat menerima hadiah.



We are never so defenseless againts suffering as when we love
(Freud)


Kendati passionate love merupakan cinta yang menggebu-gebu namun cepat juga ia menghilang. Perasaan cinta yang menggebu-gebu ini hanya berjalan dalam hitungan bulan saja, namun tidak untuk selamanya. Fisher (1994) mengatakan bahwa puncak perceraian terjadi empat tahun setelah menikah. Apabila suatu hubungan dekat dapat terjalin selama bertahun-tahun dan tetap hangat, ini menandakan mereka, menjalin hubungan atas dasar companionate love. jenis cinta lainnya adalah companionate love yaitu suatu perasaan yang dirasakan kepada pasangannya berupa perasaan terikat dan dalam antara satu dan lainnya.

When two people are first together, their hearts are on fire and their passion is very great. After a while, the fire cools and that’s how it stay. They continue to love each other, but it’s in a different way-warm and dependable
(Shostak)

Selanjutnya, penelitian membuktikan bahwa pasangan yang menikah karena cinta dan bukan gairah, akan semakin merasakan indahnya cinta setelah lima tahun menikah. Pengalaman emosi positif secara intens dalam sebuah pernikahan merupakan kunci berkurangnya masalah perceraian. Dalam suatu hubungan pernikahan yang langgeng, gairah cinta akan tumbuh kembali ketika pasangan mendapatkan anak. Setelah 20 tahun menikah, biasanya gairah cinta akan perlahan memudar, dan akan bersinar kembali ketika pasangan itu ditinggal menikah oleh anak-anaknya atau pensiun dari sebuah pekerjaan sehingga mereka dapat berfokus pada intensitas saling memberikan perhatian.


No man or women really knows what love is until they have been married

a quarter of a century
(Mark Twain)

Teori mengenai konsep cinta juga disebutkan oleh psikolog lainnya. Robert Sternberg (1998) mengungkapkan sebuah teori mengenai konsep mencintai melalui tiga jenis komponen dasar cinta. Teori ini lebih memudahkan dalam penggolongan cinta dan kombinasinya dapat menjelaskan jenis hubungan cinta yang sedang dialami oleh sebuah pasangan cinta.
Tiga jenis komponen dasar cinta tersebut adalah:
1. Intimasi (kedekatan hubungan)
2. Gairah (intensitas emosi)
3. Komitmen

Kombinasi-kombinasi komponen ini membentuk konsep mengenai mencintai yaitu :
1. Romantic love (cinta romantis) merupakan cinta yang dikombinasi oleh komponen intimasi dan gairah. Cinta ini hampir mirip dengan passionate love.
Misalnya: ketika anda bertemu dengan seseorang yang membuat anda tergila-gila kemudian anda ingin selalu berada dekat dengannya, namun tanpa ada ikatan ataupun komitmen. Seperti halnya hubungan tanpa status.
2. Fatuous love (cinta buta) merupakan kombinasi antara gairah dan komitmen. Jenis cinta ini cenderung tidak memikirkan akibat dari hubungan yang tengah dijalani.
Contohnya pada saat anda menemukan seseorang yang membuat anda bergairah dan anda ingin membuat suatu komitmen, bahwa anda tengah berhubungan dengannya, namun anda tidak bisa terus dekat dengannya. Ini dapat terjadi ketika seseorang selingkuh dari pasangannya atau hubungan yang tidak disetujui oleh orang tua atau dapat juga anda berhubungan dengan seseorang yang tidak tinggal ditempat yang sama karena ia tinggal dan harus bekerja di luar kota.
3. Companionate love (cinta yang tepat) merupakan kombinasi antara intimasi dan komitmen.
Cinta jenis ini misalnya terjadi ketika anda dijodohkan oleh orang tua, anda bisa dekat dengannya dan mempunyai komitmen untuk bersama namun tidak sedikitpun terdapat gairah di dalamnya. Atau dapat berupa, anda memilih seseorang yang anda anggap tepat sebagai pasangan tapi sebenarnya anda tidaklah terlalu mencintainya dan tidak merasa bergairah dalam menjalin hubungan jika dibandingkan ketika anda berhubungan dengan wanita/pria idaman anda lainnya.
4. Consummate love (cinta sejati) adalah kombinasi dari ketiga komponen dasar cinta yaitu intimasi, gairah dan komitmen. Cinta jenis ini sering dikatakan sebagai cinta yang sempurna. Pasangan yang saling mencintai, penuh gairah dan memiliki komitmen yang menguatkan hubungan tersebut. Hm..

Lalu, jenis cinta manakah yang anda rasakan?







Referensi :
1. Franzoi, S.L. (2009).Social Psychology, 5th ed. USA: McGraw-Hill.
2. Myers, D.G. (2008). Social Psychology, 9th ed. USA: McGraw-Hill.



Jumat, 07 Mei 2010

being grateful is one of the key the key to happiness, so be thankful for

  1. health
  2. your your 5 senses that work properly
  3. your parents
  4. your maid
  5. a house to live in
  6. a bed to sleep on
  7. your talents
  8. your friends
  9. your freedom
  10. your education
  11. sufficient water supply everyday
  12. electricity
  13. access to internet
  14. your pocket money (no matter how much it is)
  15. chances to see other countries
  16. food provided on your table everyday
  17. you're not living in a war zone
  18. the huge choices of entretainment
  19. the easy communication
  20. the smell of fresh air each morning..

Kamis, 22 April 2010

Backpacker 1


ini artikel lumayan oke..
it's about dream..
Yok Jadi "Backpacker", Jelajahi Asia Tenggara
Jumat, 16 April 2010 05:47 WIB
Pergi ke luar negeri sekarang ini bukan lagi mimpi. Dengan makin banyaknya tiket penerbangan murah, menginap gratis di rumah sesama backpacker di seluruh dunia, mimpi keliling dunia bisa jadi kenyataan.
Tapi sekarang ini kita ngomongin backpacking ke beberapa negara di Asia Tenggara saja dulu ya. Negeri-negeri yang dekat dengan Indonesia. Ayo, cobain saat liburan mendatang....
Backpacker berasal dari kata backpack, yang artinya tas punggung atau ransel. Sedangkan orang yang melakukan perjalanan dengan menggunakan ransel disebut sebagai backpacker. Jadi aktivitas perjalanan yang dilakukan oleh backpacker disebut backpacking.
Melakukan perjalanan sebagai backpacker identik dengan perjalanan murah meriah. Semua lini pengeluaran diusahakan mencari yang semurah mungkin, bahkan gratis.
Pengeluaran yang terbesar dan terpenting dari seorang backpacker yang akan melakukan perjalanan ke luar Indonesia adalah tiket pesawat dan penginapan. Karena itu, kamu harus rajin mencari informasi penerbangan mana yang sedang memberikan harga diskon atau menjual tiket murah.
Rute-penginapan
Menentukan rute harus disesuaikan dengan waktu dan anggaran/dana yang kamu punya. Jika kamu punya waktu satu minggu, lebih baik memilih rute Singapura-Malaysia saja atau Malaysia-Thailand atau Thailand-Kamboja atau Kamboja-Vietnam. Atau kamu fokus di satu negara saja.
Kalau punya waktu dua minggu, kamu bisa pergi lebih jauh: Singapura-Malaysia-Thailand atau Thailand-Kamboja-Vietnam.
Kalo punya waktu satu bulan, kamu bisa pergi menjelajah lima negara di Asia Tenggara: Singapura-Malaysia-Thailand-Kamboja dan Vietnam.
Selama perjalanan, kamu bisa menginap di guest house atau hostel. Ada dua website yang bisa diandalkan untuk pencarian hostel, yakni
http://www.hostelbookers.com atau http://www.hostelworld.com.
Contoh di Singapura satu malam di dormitory room (sekamar berempat, berenam, atau berdelapan) kamu harus membayar sekitar 20 dollar Singapura (Rp 140.000).
Kalo tidak punya cukup uang untuk membayar penginapan, kamu bisa menginap gratis di rumah backpacker di negara lain dengan bergabung dalam komunitas Jaringan Silaturahmi (Hospitality Exchange Network): Hospitality Club
http:// www.hospitalityclub.org atau CouchSurfing http://www.couchsurfing.org.
Ini cara lain untuk menyelami kehidupan masyarakat lokal dengan tinggal secara gratis di rumah mereka.
Destinasi
Banyak yang bertanya, kalo ke luar negeri itu ngapain aja sih? Intinya ya jalan-jalan, mengenal kebudayaan bangsa lain, mengunjungi situs-situs modern atau bersejarah di negara tujuan, ke tempat-tempat terkenal atau sekadar nongkrong dengan backpacker lain atau penduduk lokal.
Di Singapura, selain nongkrong di Orchard Road yang terkenal itu, kamu juga bisa ke area Bugis, Little India, atau China Town. Ada beberapa museum yang bisa kamu datangi, ada Japanese and Chinese Garden, Jurong Bird Park, atau berkunjung ke Pulau Sentosa.
Dari Singapura, kamu bisa bergerak dengan bus menuju kota kecil Melaka. Arsitektur kota ini gabungan antara Portugis dan China. Sangat menarik buat pencinta gedung-gedung tua. Ada gereja, ada bekas benteng, juga ada museum. Selain itu bisa berkeliling Melaka dengan becak.
Di Kuala Lumpur, kamu juga bisa naik ke Sky Bridge gratis di Menara Kembar (KLCC Twin Tower), jalan-jalan ke Petaling Street, Bukit Bintang, ke Batu Cave yang letaknya 13 km dari Kuala Lumpur. Batu Cave ini merupakan tempat ibadah bagi orang Hindu di Malaysia. Juga bisa berburu oleh-oleh di Central Market. Jangan khawatir, banyak hostel murah di depan Terminal Bus Pudu Raya.
Jika kamu punya cukup waktu, bisa berlanjut ke Penang dengan bus. Kalo tidak punya cukup waktu, kamu bisa terbang dari Kuala Lumpur ke Bangkok. Cek penerbangan murah.
Bangkok
Di Bangkok, tinggal di area backpacker Khaosan Road juga menarik. Di hari pertama bisa berkeliling Bangkok dengan tuk-tuk hanya 30 baht (Rp 9.000) diantar ke empat tempat, yakni ke patung Buddha berdiri, Wat Bencha, Buddha Golden Mount, dan Grand Palace. Namun, kamu akan dibawa oleh sopir mampir ke toko perhiasan. Jangan khawatir, cuci mata saja di toko itu karena dengan membawa kamu ke toko perhiasan, si sopir mendapatkan bensin 1 liter secara gratis dari toko itu.
Kamboja dan Vietnam
Dari Bangkok, kamu bisa melanjutkan perjalanan dengan bus selama 10 jam ke Siem Reap Kamboja. Ingat, meski Kamboja termasuk negara ASEAN, untuk masuk Kamboja kamu harus membayar visa on arrival, harga resminya 20 dollar AS.
Di Siem Reap kamu bisa melihat matahari terbit di Angkor Wat, sebuah kompleks candi yang isinya 80 candi lebih di satu area luas. Jangan lupa mampir ke candi Ta Phrom, tempat pengambilan gambar film Tomb Raider yang dibintangi Angelina Jolie.
Ada akar pohon raksasa yang melilit candi Ta Phrom ini.
(Elok Dyah Messwati)

Rabu, 21 April 2010

What You Don’t Know Makes You Nervous



Thanks God, I've found this journal..
Journal di New York Times ini menurut saya bagus banget, sederhana tapi bermakna..semoga suatu hari saya bisa melakukan hal seperti ini.

Take a dream then make it comes true..
check this out..

May 20, 2009, 9:30 pm
What You Don’t Know Makes You Nervous
By
DANIEL GILBERT
Shoboshobo
CAMBRIDGE, Mass. — Seventy-six years ago, Franklin Delano Roosevelt took to the inaugural dais and reminded a nation that its recent troubles “concern, thank God, only material things.” In the midst of the Depression, he urged Americans to remember that “happiness lies not in the mere possession of money” and to recognize “the falsity of material wealth as the standard of success.”
“The only thing we have to fear,” he claimed, “is fear itself.”
As it turned out, Americans had a great deal more to fear than that, and their innocent belief that money buys happiness was entirely correct. Psychologists and economists now know that although the very rich are no happier than the merely rich, for the other 99 percent of us, happiness is greatly enhanced by a few quaint assets, like shelter, sustenance and security. Those who think the material is immaterial have probably never stood in a breadline.

Money matters and today most of us have less of it, so no one will be surprised by new survey results from the
Gallup-Healthways Well-Being Index showing that Americans are smiling less and worrying more than they were a year ago, that happiness is down and sadness is up, that we are getting less sleep and smoking more cigarettes, that depression is on the rise.
An uncertain future leaves us stranded in an unhappy present with nothing to do but wait.
But light wallets are not the cause of our heavy hearts. After all, most of us still have more inflation-adjusted dollars than our grandparents had, and they didn’t live in an unremitting funk. Middle-class Americans still enjoy more luxury than upper-class Americans enjoyed a century earlier, and the fin de siècle was not an especially gloomy time. Clearly, people can be perfectly happy with less than we had last year and less than we have now.
So if a dearth of dollars isn’t making us miserable, then what is? No one knows. I don’t mean that no one knows the answer to this question. I mean that the answer to this question is that no one knows — and not knowing is making us sick.
Consider an experiment by researchers at Maastricht University in the Netherlands who gave subjects a series of 20 electric shocks. Some subjects knew they would receive an intense shock on every trial. Others knew they would receive 17 mild shocks and 3 intense shocks, but they didn’t know on which of the 20 trials the intense shocks would come. The results showed that subjects who thought there was a small chance of receiving an intense shock were more afraid — they sweated more profusely, their hearts beat faster — than subjects who knew for sure that they’d receive an intense shock.
That’s because people feel worse when something bad might occur than when something bad will occur. Most of us aren’t losing sleep and sucking down Marlboros because the Dow is going to fall another thousand points, but because we don’t know whether it will fall or not — and human beings find uncertainty more painful than the things they’re uncertain about.
But why?
A colostomy reroutes the colon so that waste products leave the body through a hole in the abdomen, and it isn’t anyone’s idea of a picnic. A University of Michigan-led research team studied patients whose colostomies were permanent and patients who had a chance of someday having their colostomies reversed. Six months after their operations, patients who knew they would be permanently disabled were happier than those who thought they might someday be returned to normal.
Similarly, researchers at the University of British Columbia studied people who had undergone genetic testing to determine their risk for developing the neurodegenerative disorder known as Huntington’s disease. Those who learned that they had a very high likelihood of developing the condition were happier a year after testing than those who did not learn what their risk was.
Why would we prefer to know the worst than to suspect it? Because when we get bad news we weep for a while, and then get busy making the best of it. We change our behavior, we change our attitudes. We raise our consciousness and lower our standards. We find our bootstraps and tug. But we can’t come to terms with circumstances whose terms we don’t yet know. An uncertain future leaves us stranded in an unhappy present with nothing to do but wait.
Our national gloom is real enough, but it isn’t a matter of insufficient funds. It’s a matter of insufficient certainty. Americans have been perfectly happy with far less wealth than most of us have now, and we could quickly become those Americans again — if only we knew we had to.


Daniel Gilbert is professor of psychology at Harvard University and author of “Stumbling on Happiness.”